//
you're reading...
Uncategorized

Karakteristik Karkas Ternak Domba yang Diberi Lumpur Limbah Industri Alkohol (“Sludge”) sebagai Komponen Konsentrat

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

Karakteristik  Karkas Ternak Domba yang Diberi  Lumpur  Limbah  Industri  Alkohol  (“Sludge”)  sebagai  Komponen Konsentrat

Oleh : Damaryanto Widharto

Abtrack

Carcasse Caracteristict of Indigenous Sheep Fed on Diet Consisting of Alcohol Industrial Sludge as Concentrate Component.

A research was aimed to determine the effect of sludge utilization as component of concentrate in ration on quality of carcasse in sheep.

Twelve indigenous rams were divided randomly into 3 groups of treatment, and each group consisted 4 replications. The treatment given was substitution of concentrate with different levels of sludge, namely :

               T-0 : Concentrate    2%  and  sludge     0%

               T-1 : Concentrate 1.6%  and  sludge  0.4%

               T-2 : Concentrate 1.2%  and  sludge  0.8%

             The results indicated that the experiment had no significant effect on  characteristic of carcasse.    The average of  carcasse percentage were  37.64% (T-0),  33.96% (T-1)  and  31.86% (T-2).

Key words : Sheep, sludge, and  carcasse caracteristict.

I. PENDAHULUAN.

1. Latar  Belakang

Industri kimia yang menggunakan bahan dasar molase, urea, triple super phospat (TSP) mampu menghasilkan suatu limbah hasil fermentasi yang berbentuk lumpur atau “sludge”,  yang  jumlahnya  cukup melimpah. Kandungan nutrien dalam “sludge” berdasarkan kandungan bahan kering (BK) ternyata masih cukup potensial sebagai pakan ternak. Kandungan nutrien dalam “sludge” masing-masing  adalah  PK 23,59%,  SK 19,86%,   LK 2,10%    dan   BETN 55,5%    (Astuti  dan Risyani, 2001).

Ditinjau dari kandungan nutriennya tersebut  maka “sludge” mempunyai potensi yang baik  untuk digunakan sebagai bahan pengganti  komponen penyusun ransum khususnya konsentrat, karena zat nutrisinya lebih  baik dibandingkan dengan bekatul yang mengandung PK 14,55%; SK 8,07%; BETN 62% (dasar 100% BK) dan  dedak jagung yang mengandung PK 11,39%; SK 5,13%; BETN 74,2% (dasar 100% BK) (Balitnak, 2001). 

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Astuti dan Risyani (2001), menyimpulkan bahwa penggantian jagung dengan “sludge” sampai aras 75%  dalam ransum itik tidak berpengaruh buruk pada konsumsi pakan, konversi pakan   dan   produksinya.     Sementara  itu,   penggantian   konsentrat    dengan  “sludge”   sampai   aras   30%  dalam   ransum  sapi potong  menurunkan konsumsi pakan, namun memberikan peningkatan pada efisiensi pakan dan  produksinya  (Risyani et al., 2003).

Upaya untuk lebih mengoptimalkan pemanfaatan “sludge” sebagai bahan pakan ternak, maka dilaksanakan penelitian  dengan judul  Karakteristik  Karkas Ternak Domba yang Diberi  Lumpur  Limbah  Industri  Alkohol  (“Sludge”)  sebagai  Komponen Konsentrat.

2.      Pertumbuhan  Ternak  Domba.

Pertumbuhan diartikan sebagai perubahan ukuran yang meliputi  berat hidup, bentuk, dimensi linier dan komposisi tubuh ternak. Selama proses pertumbuhan  terjadi  perubahan  komponen-komponen  tubuh  seperti   jaringan otot, lemak, tulang dan organ, serta komponen-komponen kimia seperti air, protein dan lemak tubuh (Soeparno, 1994). Judge et al. (1989) menyatakan, bahwa selama pertumbuhan proporsi tulang, daging dan lemak akan mengalami perubahan terus menerus. Perkembangan tulang, daging dan bagian tubuh yang lain akan mempengaruhi komposisi penyusunnya seperti protein, lemak dan karbohidrat.  Williams dalam Soeparno dan Davies (1997) menyatakan bahwa di dalam proses pertumbuhan   terdapat  perubahan   atas  dua  aspek,  yaitu   pertambahan  massa   per    unit   waktu   sebagai  akibat  dari   akumulasi  biomassa, dan perubahan bentuk dan komposisi tubuh sebagai akibat  terjadinya  diferensiasi   dari   komponen   tubuh.    Menurut Lawrie (1995),  pada proses pertumbuhan seekor ternak, ada dua hal yang terjadi. Pertama, meningkatnya  bobot badan sampai mencapai bobot badan dewasa, yang disebut dengan pertumbuhan (“growth”).  Ke dua,  terjadinya perubahan konformasi, bentuk badan dan berbagai fungsi serta   kesanggupannya   untuk   melakukan   sesuatu, yang disebut dengan perkembangan (“development”).

Pertumbuhan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya aspek genetik, nutrisi dan fisiologi lingkungan (Lawrie, 1995), bangsa, bobot lahir, jenis kelamin, umur ternak dan pakan (Tulloh dalam Soeparno, 1994).  Bangsa ternak yang besar akan lahir lebih berat dan tumbuh lebih cepat daripada bangsa ternak kecil (Tulloh dan Williams dalam Soeparno, 1994). Pada hampir semua ternak, walau betina lebih cepat mencapai dewasa, namun jantan memiliki laju pertumbuhan yang lebih besar (Lawrie, 1995).  Lebih lanjut dinyatakan oleh Lawrie (1995), bahwa ternak yang dipelihara dengan pakan dibawah tingkatan hidup pokok akan memiliki laju pertumbuhan yang rendah.

3.  Karkas

Karkas merupakan hasil pemotongan ternak setelah dikurangi dengan kepala, darah, kulit, ekor, ke empat kaki bagian bawah (lutut), dan organ dalam kecuali ginjal. Karkas sangat dipengaruhi oleh faktor pakan, pertumbuhan dan berat badan ternak disamping  faktor bangsa dan lingkungan.

II.                MATERI  DAN  METODE.

1.      Materi  Penelitian

Materi yang  digunakan  dalam  penelitian  ini  adalah  12  ekor   domba  lokal jantan  dengan umur 8 – 10  bulan  dan  bobot  badan  15 – 20  kg.  Domba-domba  tersebut  dipelihara dalam kandang individual dengan ukuran 0,5 x 1,0 m2   yang   dilengkapi  dengan  tempat  pakan dan minum.  Ransum basal yang diberikan berupa rumput gajah (Pennisetum purpureum) dan konsentrat.  Bahan pengganti  konsentrat  yang digunakan sebagai perlakuan dalam  penelitian ini berupa  “sludge” yang telah dikeringkan.  Rumput  gajah  diberikan  secara  ad libitum,  sedangkan  konsentrat  diberikan  sebanyak  2%  dari  BB. Komposisi kimia bahan pakan ransum penelitian. 

2.      Metode Penelitian. 

a.      Desain  Percobaan 

 Desain percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah  Rancangan Acak   Lengkap  (RAL),    karena    karakteristik   obyek    penelitian      bersifat homogen, dilihat dari sisi ternak, bentuk  dan  jenis  kandang   serta   kondisi  geografis  dari  lokasi   penelitian (Sudjana, 1991).   Domba-domba    tersebut    secara     acak  dialokasikan  ke   dalam  3  perlakuan  dan  masing-masing  perlakuan  terdiri  atas  4  ulangan.  Perlakuan  yang  dimaksud adalah  penggantian  konsentrat  dengan  “sludge”  dalam  aras  yang  berbeda, yaitu   :

 T-0  =   Konsentrat     2% BB  +   “Sludge”    0%  BB 

                T-1  =   Konsentrat  1,6% BB  +  “Sludge”  0,4%  BB

                T-2  =   Konsentrat  1,2% BB  +  ‘Sludge”  0,8%  BB

                            Tabel  1.     Komposisi    Kimia    Bahan    Pakan    Penyusun

                                               Ransum   Penelitian.

                =====================================================

                                                              R. Gajah              Konsentrat             Sludge                               

                ____________________________________________________________                   

                 Bahan Kering  (%)                54,46                      88,47                 90,56 

                 Serat Kasar (%)                     31,97                      12,00                   0,29           

                 Protein Kasar (%)                 10,57                      12,80                 11,22 

                 Lemak Kasar (%)                    1,90                        7,50                   0,90

                 Energi (MJ/kg)                      14,95                      13,96                 12,97

               ____________________________________________________________

b.      Prosedur  Penelitian

Pada tahap pendahuluan, ternak domba diberi pakan perlakuan dalam aras yang sama, dengan tujuan agar domba terbiasa dengan bahan pakan perlakuan tersebut.

Pada tahap perlakuan, ternak domba diberi pakan perlakuan dalam aras berbeda,  sesuai  dengan  perlakuan  penelitian, yaitu  T-0, T-1 dan T-2.  Pada tahap ini  dilakukan   pengambilan  data-data yang meliputi konsumsi pakan dan bobot badan mingguan.

Pada akhir perlakuan dilakukan penyembelihan domba dan pengamatan terhadap karakteristik karkas, dengan parameter yang diamati adalah bobot karkas, “meat bone ratio” (MBR) dan komposisi kimia daging. Bobot karkas diperoleh dengan cara menimbang hasil penyembelihan ternak domba setelah dikurangi dengan kepala, ekor, ke empat kaki mulai dari lutut,  darah, kulit   dan   organ  dalam  kecuali  ginjal.   Persentase    karkas,   diperoleh dengan cara membagi bobot karkas dengan berat hidup dikalikan 100 persen. Meat Bone Ratio (MBR) merupakan nisbah antara daging dan tulang dalam suatu karkas.  Komposisi  kimia  daging, diperoleh dengan analisa proksimat yang meliputi  kadar air,  kadar protein dan kadar lemak daging.

   c. Analisis Data.

Data-data yang telah diperoleh selama tahap perlakuan selanjutnya diolah  untuk  dianalisis dengan  menggunakan analisis varians.

III.  HASIL  DAN  PEMBAHASAN.

1.                              Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH) .

Rerata PBBH  pada  T-0, T-1  dan  T-2  secara  berturut-turut  adalah 53, 65 dan  56 g/ekor/hari.  Analisis statistik menunjukkan bahwa PBBH  ketiga macam perlakuan tersebut tidak berbeda nyata (P>0,05). Tidak adanya perbedaan yang  nyata ini diduga disebabkan oleh konsumsi BK dan PK yang masih dalam standar kebutuhan. Konsumsi   BK   pada    T-0,   T-1 dan  T-2 masing-masing adalah sebesar  772, 815  dan   741 g/ekor/hari,  sedangkan    konsumsi   PK masing-masing adalah  89, 92  dan  83 g/ekor/hari. 

Tillman et al. (1991), yang menegaskan bahwa  konsumsi BK pakan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap laju pertumbuhan  karena  dari BK pakan tersebut  ternak memperoleh nutrien untuk hidup  dan  pertumbuhan.  Sementara itu Soeparno (1994) dan Parakkasi (1999), menyatakan bahwa  pertumbuhan pada ternak yang ditunjukkan  dengan PBBH dipengaruhi  oleh  faktor  pakan  (komposisi kimia  dan  konsumsi pakan)  dan  ternak (sex dan genetik).

Kecenderungan  meningkatnya PBBH pada ternak domba yang diberikan “sludge” diduga bukan terjadi pada pertambahan komponen daging, melainkan komponen tulang yang disebabkan oleh adanya tambahan mineral dari “sludge” yang dapat memacu pertumbuhan tulang dan pendewasaan kerangka tubuh  dari ternak domba tersebut.  Dugaan tersebut di atas  didukung  oleh  data rerata konsumsi kalsium (Ca) untuk masing-masing perlakuan, yaitu 3,35 (T-0), 5,79 (T-1) dan 8,28 g/ekor/hari (T-2).  Hal  ini  sesuai  dengan  pendapat  Judge et al. (1989), yang menjelaskan bahwa pada masa pertumbuhan proporsi tulang, daging dan lemak mengalami  perubahan.  Tulang akan berkembang  lebih  awal  sebagai  penentu  kerangka  dan  konformasi  tubuh ,  diikuti  oleh   daging   dan    lemak    (Soeparno, 1994). 

2.  Karakteristik  Karkas

a.  Karkas

Secara  kuantitatif  bobot  karkas  tersebut  cenderung   menurun   dengan  meningkatnya   penggunaan   “sludge”,    yaitu   tertinggi  dicapai  pada perlakuan  T-0  yang   diikuti  oleh   T-1  dan  T-2.   Kecenderungan   penurunan   ini juga diikuti oleh  persentase  karkasnya (lihat Tabel 2).  Rerata  hasil  karkas  segar  domba  hasil  penelitian,  yaitu  berkisar  antara  6,83 sampai 8,13 kg/ekor, dengan persentase  berkisar  antara  31,86 sampai 37,64%, sedangkan  hasil  karkas  layu,  yaitu  berkisar  antara  6,33 sampai 7,50 kg/ekor, dengan persentase  berkisar  antara  29,53 sampai 34,63%.   

             Tabel  2.  Karakteristik  Karkas  Ternak  Domba  Percobaan. 

=======================================================

               Parameter                                                          Perlakuan                           

                                                          ————————————————————  

                                                                  T-0                       T-1                       T-2         

           ______________________________________________________________

   Karkas                                                                                                                       

   Segar  (kg,%)                        8,13     37,64        7,04     33,96       6,83    31,86   

   Layu  (kg,%)                         7,50     34,63        6,44     31,04       6,33    29,53

   Komponen  Karkas

   Daging  (kg,%)                      4,90     63,9         4,31      65,8        3,82     62,8

   Lemak  (kg,%)                      1,13     14,1         0,68      10,1        0,54       9,1

   Tulang  (kg,%)                     1,74      22,5         1,58      24,1        1,68     28,2

  “Meat  Bone  Ratio”             2,82                      2,73                     2,28                

   Komposisi  Kimia  Daging                                                                             

   Kadar  Air (%)                      76,05                 75,63                   77,30   

   Kadar  Protein (%)                24,58                 24,46                   22,91  

   Kadar  Lemak (%)                  2,57                   2,61                     2,25    

           ­­­­­­___________________________________________________________­­­­­­­­­­­                     ­­­

Hasil analisis statistik terhadap karkas domba dari ketiga   perlakuan pakan memberikan hasil yang tidak  berbeda  nyata  (P> 0,05).  Hasil   tersebut  memberikan  arti  bahwa  penggunaan  “sludge”   sebagai  pengganti  konsentrat sampai    aras    0,8%    dari  BB  tidak     berpengaruh    terhadap    karkas    yang  dihasilkan.   Perbedaan  yang  tidak  nyata  tersebut  di atas  diduga   disebabkan  karena  konsumsi  BK  pada  ketiga  perlakuan, yaitu  T-0,  T-1  dan  T-2  yang  tidak berbeda nyata  sehingga  menjadikan  perberbedaan  yang  tidak   nyata  pula pada  PBBH. Bobot  badan  awal  yang  relatif  sama dan  dengan   PBBH   yang  cenderung  sama  pula  akan   didapatkan   bobot  badan akhir  yang  relatif sama.  Dari  bobot  badan  akhir  yang  relatif  sama  maka  akan  didapatkan  bobot  karkas  yang  sama. 

Soeparno (1994)  dan  Parakkasi (1999) yang  menyatakan,  bahwa  laju  pertumbuhan  dan   status  nutrisi  merupakan   faktor  yang  saling berkaitan dalam mempengaruhi karkas atau komposisi tubuh.  Menurut  Lawrie (1995), apabila kandungan nutrisi  dibawah tingkat  kebutuhan hidup  pokok, maka  berbagai  jaringan  tubuh  akan  digunakan  untuk  mensuplai  energi  dan  protein.  Setiyono  (2000) menyatakan bahwa persentase  karkas dipengaruhi  oleh konsumsi pakan  dan  lama  waktu pemeliharaan,  sementara  Tulloh  dalam  Soeparno (1994), yang  menyatakan  bahwa  salah  satu  faktor  yang  dapat  mempengaruhi  karkas  adalah  bobot badan  ternak  itu  sendiri. 

Hasil karkas dari  penelitian ini lebih  rendah  dari hasil penelitian yang dilakukan Setiyono (2000)  yang mendapatkan persentase karkas berkisar antara 38,78 sampai 46,74%, dan  hasil  penelitian  Purbowati et al. (2000) yang berkisar  antara  38,56  sampai  40,47%. 

c.       Komponen  karkas.

Hasil  penelitian  ini  memperlihatkan  bahwa  persentase  daging  dalam karkas relatif  konstan,    tetapi  persentase  tulang  cenderung  meningkat, sedangkan  persentase  lemak  dalam  karkas  cenderung  menurun  pada   pakan  dengan  kandungan  “sludge”  yang  meningkat (T-1 dan T-2).   Persentase daging dalam karkas pada masing-masing perlakuan, diperoleh  63,9 (T-0); 65,8 (T-1)   dan  62,8%  (T-2),   persentase  tulang  dalam   karkas   diperoleh  22,5 (T-0); 24,1 (T-1)  dan  28,1% (T-2), sedangkan   persentase lemak  dalam karkas diperoleh  14,1 (T-0); 10,1 (T-1)  dan  9,1% (T-2).  

Terjadinya    kecenderungan    peningkatan    proporsi   tulang   dan    penurunan  proporsi  lemak  dalam  karkas,  memberikan indikasi  bahwa  kondisi  domba pada perlakuan T-1 dan T-2 terlihat lebih kurus, dibanding dengan pada T-0.  Kondisi tersebut  diduga  disebabkan  karena   domba  yang diberi “sludge” mendapatkan tambahan mineral yang dapat memacu perkembangan   komponen  tulang lebih  cepat  daripada  domba  tanpa  diberi  sludge”  sehingga  terlihat  kurus. 

Judge et al. (1989), menyatakan bahwa  selama pertumbuhan berlangsung, maka  proporsi   tulang,   daging   dan   lemak   mengalami    perubahan    terus-menerus.  Lebih  lanjut  dinyatakan  oleh  Judge et al. (1989), bahwa  semua komponen tubuh mengalami pertumbuhan, tetapi kecepatan pertumbuhan tulang  lebih  besar pada  karena  merupakan  kerangka  yang  digunakan  menentukan  konformasi  tubuh  diikuti  oleh daging  dan  lemak.  

c.  Komposisi   Kimia  Daging.

Rerata  komposisi  kimia  daging  yang meliputi  kadar air, protein  dan lemak  dari  ke tiga  macam  perlakuan  berturut-turut   masing-masing   sebesar 

76,05; 24,58 dan  2,57%  untuk  T-0,  sebesar  75,63;  24,46  dan  2,61%  untuk  T-1  serta  sebesar  77,30;  22,91  dan  2,25%  untuk  T-2.  Daging pada  perlakuan  T-0  dan  T-1  memiliki   komposisi   kimia    yang    relatif  sama.  Sementara komposisi  kimia  daging  pada  perlakuan  T-2  berbeda  dengan  yang  diperoleh  T-0  dan  T-1,  yaitu  kandungan  airnya  cenderung lebih  tinggi  tetapi kandungan protein  dan lemaknya lebih rendah.  Hasil  ini  memberikan  indikasi, bahwa  penggunaan  “sludge”  sebagai  pengganti  konsentrat  yang  lebih  dari  0,4%  dari BB berkecenderungan  mengubah komposisi  daging  karkas yang  dihasilkan.

Komposisi  kimia  daging  domba hasil penelitian ini  sesuai  dengan    pernyataan  Lawrie (1995),  bahwa  kadar air berkisar   65-80%,  protein        16–22%   dan  lemak  1,5–13%,  tetapi  lebih  rendah  daripada komposisi  kimia  daging  domba yang diteliti oleh Judge et al. (1989),  yaitu  berturut-turut  untuk  kadar  air,  protein  dan  lemak  sebesar  71,5;   68,4   dan   4,2%. 

            IV.  KESIMPULAN

1.      Penggunaan “sludge” sebagai pakan pengganti  konsentrat dalam  ransum ternak domba sampai aras  0,8% dari bobot badan tidak  mempengaruhi konsumsi pakan,  dan  pertambahan bobot badan harian.

2.      Penggunaan  “sludge”  sebagai  pengganti  konsentrat dalam ransum ternak domba  sampai  aras  0,8% dari bobot badan  tidak  mempengaruhi  karakteristik  karkas.

DAFTAR  PUSTAKA.

Andrew, S.M., R.A. Erdman dan D.R. Waldo. 1995. Prediction of body composition of dairy cows at three physiological stages from deuterium oxide and urea dilution. J. Dairy Sci. 78: 1083-1095.

Anggorodi, R. 1994. Ilmu Makanan Ternak Umum. Cetakan ke 4. PT. Gramedia, Jakarta.

Astuti, D.A. dan D. Sastradipradja. 1999.  Evaluation of body composition using urea dilution and slaughter technique of growing Priangan sheep. J.Media Veteriner. 6 (3): 5 – 9.

Astuti, P. dan  L. Risyani. 2001. Efisiensi Usaha Ternak Itik Melalui Pemberian Ransum dengan Komposisi Limbah Lumpur Fermentasi. Akademi Peternakan Karanganyar. (Laporan  Penelitian).

Balai Penelitian Ternak. 2001. Tekonologi  Usaha  Penggemukan  Sapi  Potong.  Balai  Pengkajian Tekonologi  Pertanian  Jawa  Tengah,  Semarang.

Cullison, A. E.  1979.  Feed  and  Feeding.  2nd  Ed.  Reston  Publ. Co. Inc,  Virginia.

Devendra, C.  dan  M.  Burns.  1994.  Produksi  Kambing  di  Daerah  Tropis.  Penerbit ITB,  Bandung. (diterjemahkan oleh : IDKH Putra)

Edey, T.N. 1983.  Tropical Sheep and Goat Production in the Tropics. Freeman and Co., San Fransisco.     

Ernawati  dan  Sunarso.  2001.  Keragaan  penerapan  teknologi  pakan  pada  penggemukan  domba.  J. Pengembangan  Peternakan  Tropis. Special Edition   April 2001:  236 – 248.

Frandson, R.D. 1996. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Edisi Keempat. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. (Diterjemahkan oleh B. Srigandono dan K. Praseno).

Hammond, A.C., T.S. Rumsey and G.L. Haaland. 1984. Estimation of Empty Body Water in Steers by Urea Dilution. Ruminant Nutrition Laboratory. Agricultural Research. U.S. Departement of Agriculture. Beltsville. Maryland.

Handayanta, E.  dan  D.  Sudjito.  2000.  Pengaruh  Suplementasi  onggok  dan  ampas  tahu  dalam  ransum  terhadap  performans  domba.  Majalah  Ilmiah  Dian  Andhini. Th. II  No.  10  Edisi  Maret  2000:  82 – 87.

Haryanto, B. dan A. Djajanegara. 1993. Pemenuhan kebutuhan zat-zat makanan ternak ruminansia kecil. Dalam: M. Wodzicka-Tomaszweska,  A. Djajanegara, I.M. Mastika, S. Gardiner  dan T.K. Wiradarya. Produksi Kambing dan Domba di Indonesia. Sebelas Maret University Press. Surakarta. Hal.:159 – 196.

Herman, R.  1977.  Konsumsi  bahan  kering  berdasarkan  berat  badan  domba.  Buletin  Makanan  Ternak.  3 (7):  148

Jesse, G.W., G.B. Thomson, J.L. Clark, H.B. Hendrick  dan  K.G. Weimer. 1976. Effects of ration energy and slaughter weight on composition of  empty body and carcass gain of beef. J. Anim. Sci. 43 (2): 418

Judge, M.D., E.D. Aberle, J.C. Forrest, H.B. Hedrick  dan  R.A. Merkel. 1989. Principles of Meat Science. Kendall/Hunt Publishing Company. Dubuque. Iowa.

Lawrie, R.A. 1995. Meat Science. Low Temperature Research Station. Nottingham University. Cambridge.

Lubis, D.A. 1992.  Ilmu  Makanan  Ternak.  PT.  Gramedia.  Jakarta.

Maynard, L.A.  and  J.K. Loosli. 1978.  Animal Nutrition. 6 th Edition. Tata Mc. Grow Hill Publishing Company. New Delhi.

Moody, W.G., J.E. Little, F.A. Thrift dan J.O. Kemp. 1970. Influence of length of a high roughage ration on quantitative and qualitative characteristics of beef. J. Anim. Sci. 31: 866-973.

Orskov, E.R. dan M. Ryle. 1990.  Energy  Nutrition  in  Ruminants.  Elsevier  Applied  Science. London.

Parakkasi, A.  1999.  Ilmu  Nutrisi  dan  Makanan  Ternak  Ruminansia. UI  Press.  Jakarta.

Pond, W.G., D.C. Church and K.R. Pond. 1995. Basic Animal Nutrition and Feeding. 4 th. John Wiley and Sons.

Prawirokusumo, S. 1998. Ilmu Gizi Komparatif.  Edisi ke I. Penerbit BPFE. Yogyakarta.

Purbowati, E., C. M. S. Lestari  dan  R. Adiwinarti. 2000.  Pemanfaatan  limbah  tempe  untuk  pakan  domba.  Bulletin of Animal Science. Fakultas Peternakan Gadjah Mada, yogyakarta. Suplement Edition. Desember  2000: 102 – 107.

Rianto, E. 1997.  Diperlukan  strategi  yang  tepat  dalam  pemberian  pakan  pada  ruminansia  di  daerah  tropik.  Buletin  Sinthesis VI (9) :  65 – 68.

Risyani, L., P. Astuti, D. Widharto,  Sunarto  dan  E. Handayanta.  2003.  Penggemukan  Sapi  Potong  PO  melalui  Pemberian  Ransum  dengan  Komponen  Limbah  Lumpur  Fermentasi  (sludge)  di  Kabupaten  Karanganyar. Akademi  Peternakan Karanganyar  dan  BAPPEDA. (Laporan  Penelitian).

Setiyono.  2000.  Komposisi  kimia  dan  persentase  karkas domba lokal  jantan  yang  diberi  pakan  basal  rumput  gajah  dan  lama  pemeliharaan  yang berbeda.  Buletin Peternakan.  Vol. 24 (4):  165–169.

Soeparno. 1994. Ilmu dan Teknologi Daging. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Soeparno and H.L. Davies. 1997. Studies on the growth  and carcass composition in daldale wether lambs. The effect of dietary protein energy ratio. Austr. J. Agric. Res 38: 425 – 427

Sudjana.  1991.  Desain  Analisis  dan  Eksperimen.  Edisi  ke  3.  Penerbit  Tarsito.  Bandung.

Sunarso. 2003. Pakan Ruminansia dalam Sistem Integrasi Ternak – Pertanian. Pidato Pengukuhan Guru Besar. Universitas Diponegoro. Semarang.

 Tillman, A.D.,  H. Hartadi,  R. Reksohadiprodjo,  S. Prawirokusumo   dan S. Lebdosoekojo. 1991.  Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada Press. Yogyakarta.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: