//
you're reading...
Uncategorized

PENDUGAAN ANGKA PEWARISAN (HERITABILITAS) BERAT BADAN BURUNG PUYUH DARI HASIL PERKAWINAN SECARA ACAK

Oleh :

Damaryanto Widharto

Akademi Peternakan Karanganyar

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui  kemampuan tetua dalam menurunkan kesamaan sifat kepada keturunannya, khususnya untuk berat badan pada burung puyuh.  Desain yang digunakan adalah Parent-offspring regression dengan dasar pertimbangan analisis berdasarkan kekerabatannya dan secara genetik ragam suatu populasi yang isogen( ragam yang sama ) dibandingkan dengan ragam populasi umum. Metoda penelitian yang digunakan untuk mendapatkan data yaitu dengan mengatur perkawinanpada setiap  kelompok secara acak (random mating). Telur yang dihasilkan dari perkawinan acak pada populasi dasar (G-0) ditetaskan dan hasil penetasannya merupakan kelompok tetua (G-1). Pada kelompok tetua (G-1) diseleksi  dan diambil 40 ekor betina dan 10 ekor pejantan untuk dilakukan perkawinan secara acak. Telur yang dihasilkan dari perkawinan acak pada kelompok tetua (G-1) tersebut ditetaskan dan hasil penetasannya merupakan kelompok keturunan (G-2). Hasil penetasan untuk kelompok tetua (G-1) dan kelompok keturunan (G-2) dipelihara dan diambil data berat badannya pada umur 1 Hari, umur 3 minggu dan umur 6 minggu untuk dianalisa.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai pendugaan angka pewarisan  berat badan burung puyuh pada saat umur 1 hari sebesar 0,082   ±    0,240 untuk betina dan  sebesar  0,083   ±   0,706 untuk jantan,  pada  umur 3 minggu sebesar 0,212   ±    0,314 untuk betina  dan sebesar  0,239   ±    0,451untuk jantan, serta  pada saat umur 6 minggu sebesar 0,618   ±    0,239 untuk betina dan sebesar  0,755   ±    0,420 untuk jantan.

Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini yaitu  bahwa. angka pewarisan  berat badan burung puyuh pada saat umur 1 hari tergolong rendah, pada umur 3 minggu tergolong sedang, dan pada umur  6 minggu tergolong tinggi. Kemampuan tetua dalam menurunkan kesamaan sifat kepada keturunnya, khususnya untuk berat badan pada burung puyuh tertinggi dicapai pada saat umur 6 minggu.Seleksi melalui sifat berat badan untuk burung puyuh paling efektif pada saat umur 6 minggu, sedangkan seleksi yang dilakukan sebelum umur 6 minggu akan kurang berhasil.

 

Kata kunci :  Heritabilitas, random mating, dan regresi.

 

I.  PENDAHULUAN

Burung Puyuh (Coturnix coturnix japonica) dikenal sebagai penghasil daging dan telur yang  cukup  produktif. Burung puyuh cukup mudah untuk dibudidayakan karena ukuran tubuhnya yang kecil, memiliki sifat prolifik, interval generasi singkat, keragaman genetik dan produktivitas tinggi.  Menurut Shanaway (1994) puyuh dapat berproduksi secara cepat, masa pengeramannya pendek, ukuran tubuhnya kecil, sehingga menguntungkan apabila digunakan sebagai hewan percobaan.

Seleksi jangka panjang telah  dilakukan untuk menduga parameter genetik  bobot badan   burung puyuh  untukmelihat batas seleksi.  Menurut Nestor et al., (1996), dengan dilakukan seleksi selama lebih dari 30 generasi pada dua galur puyuh yang berbeda, respon bobot badan dan bobot telur meningkat pada galur yang memiliki bobot badan besar ataupun pada galur yang memiliki bobot badan kecil. Aggrey et.al., (2003), juga telah melakukan penelitian seleksi jangka panjang bobot badan pada dua galur puyuh yang berbeda dan menghasilkan respon yang tidak simetris pada galur yang memiliki bobot badan besar dan kecil.

Komponen  ragam merupakan faktor penting dalam pendugaan parameter genetik diantaranya heritabilitas atau    angka pewarisan  (Van der Werf dan Boer, 1990). Angka Pewarisan juga digunakan untuk perencanaan    programpemuliaan serta interpretasi mekanisme genetik sifat-sifat kuantitatif (Henderson, 1986). Angka Pewarisan  dapat berubah setiap waktu karena beberapa alasan, dan salah satunya adalah seleksi. Nilai heritabilitas berkisar antara nol sampai dengan satu,tetapi dalam praktiknya jarang dijumpainilai-nilai ekstrim tersebut (Warwick dan Legates, 1979). Kategori besar kecilnya nilai heritabilitas, dikemukakan oleh Cole (1966) yaitu: h2 <0,20 rendah; 0,20 – 0,40 sedangdan >0,40 tinggi. Sedangkan menurutPreston dan Willis (1974), heritabilitas rendah <0,25; 0,25 – 0,50 sedang dan >0,50 tinggi.

Heritabilitas  dapat  mendugapeningkatan kemajuan genetik yangmungkin diperoleh bila dilakukan seleksi sifat tertentu. Jika heritabilitas suatu sifatmemiliki nilai tinggi,         berarti performansatau penampilan individu lebih  banyak dipengaruhi oleh faktor genetik dibanding dengan faktor lingkungandan seleksi berdasarkan individu efektif. Heritabilitas yang tinggi juga menandakan aksi gen aditif penting untuk sifat tersebut dan sebaliknya jika heritabilitas rendah maka        mungkin aksi gen dominan dan epistasis lebih penting (Lasley, 1978). Nilai heritabilitas suatu sifat akan bervariasi antar polpulasi, dan  perbedaan variasi tersebut dapat disebabkan oleh perbedaan faktor genetik (ragam genetik), perbedaan lingkungan (ragam lingkungan), metode, dan cuplikan data yang digunakan (Falconer dan Mackay, 1989).  Marks (1996), melaporkan bahwa nilai heritabilitas bobot badan puyuh hasil seleksi jangka panjang dan jangka pendek menunjukkan nilai yang berbeda,  dan  perbedaan nilai heritabilitas  tersebut  dipengaruhi oleh galur yang berbeda (galur bobot badan yang berat dan ringan) dan atau lingkungan (kualitas dan kuantitas pakan).

Warwick et.al., (1983), menyatakan heritabilitas akan menentukan perubahan pada sifat yang diseleksi (respon seleksi), dan korelasi genetik akan mempengaruhi perubahan genetik sifat lain yang tidak diseleksi (respon terkorelasi). semakin tinggi korelasi genetik, makin besar perubahan yang terjadi pada sifat yang berkorelasi. Korelasi genetik dapat berubah dalampopulasi yang sama selama beberapa generasi apabila ada seleksi yang intensif.Nilai pendugaan korelasi genetik hanya berlaku pada populasi di mana nilai tersebut diestimasi dan pada kurun waktu tertentu pula.

Berdasarkan uraian di atas maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui  angka pewarisan sifat (heritabilitas) dalam rangka mengetahui kemampuan tetua dalam menurunkan kesamaan sifat kepada keturunannya, khususnya untuk berat badan pada burung puyuh.

II. MATERI  DAN  METODA

Obyek penelitian yang digunakan untuk memperoleh data yaitu burung puyuh dengan jumlah 150 ekor yang terbagi dalam 3 kelompok, yaitu kelompok populasi dasar (G-0), kelompok tetua (G-1) dan kelompok keturunan (G-2). Kelompok tetua (G-1) merupakan anak dari kelompok populasi dasar (G-0), sedangkan kelompok keturunan (G-2) merupakan anak dari kelompok tetua (G-1). Masing-masing kelompok terdiri dari 40 ekor betina dan 10 ekor pejantan.

Metoda penelitian yang digunakan untuk mendapatkan data yaitu dengan mengatur perkawinanpada setiap  kelompok secara acak (random mating). Telur yang dihasilkan dari perkawinan acak pada populasi dasar (G-0) ditetaskan dan hasil penetasannya merupakan kelompok tetua (G-1). Pada kelompok tetua (G-1) diseleksi  dan diambil 40 ekor betina dan 10 ekor pejantan untuk dilakukan perkawinan secara acak. Telur yang dihasilkan dari perkawinan acak pada kelompok tetua (G-1) tersebut ditetaskan dan hasil penetasannya merupakan kelompok keturunan (G-2). Hasil penetasan untuk kelompok tetua (G-1) dan kelompok keturunan (G-2) dipelihara dan diambil data berat badannya pada umur 1 Hari, umur 3 minggu dan umur 6 minggu.

Data berat badan yang telah diperoleh selanjutnya dianalisa dengan menggunakan metode regresi antara rata-rata keturunan terhadap tetuanya (Becker, 1975) untuk mendapatkan nilai pendugaan angka pewarisan (heritability) .

A.      Model statistik

Zi = βXi + ei,  dimana :

Zi = rata-rata keturunan dari induk

β  = regresi Z pada X

Xi = observasi pada induk

Ei = error

B.       Formula perhitungan                                

1.      Mendapatkan harga dari : ∑ x2; ∑ z2; ∑ xz

∑ x2 = ∑ X2  – (∑ X)2/n

∑ z2 = ∑ Z2  – (∑ Z)2/n

∑ xz=∑ XZ -(∑ X) (∑ Z)/n

CovXZ = ∑ xz/n-1

Dimana n : jumlah dari tetua – anak.

Regresi keturunan pada induk (b) :   CovXZ /σ2x  = ∑ xz/∑ x2

2.      Angka pewarisan (heritability; h2) :

h2 = 2 CovXZ /σ2x

     = 2 b

3.      Standar error :

          ∑ z2 – (∑ xz)2/∑ x2

S2b = ———————-

                    n – 1

                        S2b

SE (b) =        ——

                       ∑ x2

SE (h2) =  2 SE (b)

4.      Nilai pendugaan angka pewarisan ( heritabilty estimation) :   (h2)  ±  SE (b)

III.  HASIL  DAN  PEMBAHASAN

Nilai  pendugaan angka pewarisan (h2)  berat badan burung puyuh betina dan jantan pada umur 1 hari, umur 3 minggu dan umur 6 minggu yang dihitung dengan metode regresi rata-rata keturunan terhadap tetuanya, yaitu regresi rata-rata anak betina terhadap induk dan rata-rata anak jantan terhadap pejantan sebagaimana terdapat pada tabel 1.

Tabel 1.  Data  berat  badan  burung   puyuh  betina  pada  umur  1 hari,  3 minggu   dan   

                6  minggu  serta  Pendugaan  angka  pewarisan.

            ————————————————————————————————————

              UMUR               :           BB  Induk (gr)     :           BB   Anak (gr)      :        Angka  Pewarisan      :

              ———————————————————————————————————–    

1  Hari             :        6,97  ±  0,71       :        6,63  ±  0,53        :      0,082   ±    0,240       :                                   

3  Minggu       :       47,38  ±  7,14           47,24  ±  7,23        :      0,212   ±    0,314       :                   

6  Minggu       :     118,93  ±  12,40     :    115,70  ±  9,92        :      0,618   ±    0,239       :      

————————————————————————————————————           

 

Tabel 2.  Data  berat  badan  burung   puyuh  jantan  pada  umur  1 hari,  3 minggu   dan   

                6  minggu  serta  Pendugaan  angka  pewarisan.              ————————————————————————————————————                                       

                UMUR           :     BB  Pejantan (gr)  :     BB   Anak (gr)        :        Angka  Pewarisan      :

               ———————————————————————————————————–     

1  Hari           :       6,90  ±  0,52      :       6,60  ±  0,52          :         0,083   ±    0,706       :

3  Minggu     :     47,90  ±  9,02          47,60  ±  5,85                 0,239   ±    0,451       :                   

6  Minggu     :   108,10  ±  15,39     :   108,80  ±  10,83               0,755   ±    0,420       :     

———————————————————————————————————-             

             1. Nilai pendugaan angka pewarisan berat badan pada saat umur 1 hari

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai pendugaan angka pewarisan (heritability estimation) berat badan burung puyuh pada saat umur 1 hari untuk betina sebesar 0,082   ±    0,240 dan  untuk jantan sebesar  0,083   ±   0,706.  Nilai pendugaan angka pewarisan berat badan burung puyuh pada saat umur 1 hari dapat dinyatakan relatif kecil. Hal ini memberikan pengertian bahwa seleksi yang dilakukan berdasarkan berat badan pada saat umur 1 hari belum cukup memberikan respon yang signifikan.

Kecilnya nilai pendugaan angka pewarisan berat badan burung puyuh pada saat umur 1 hari tersebut dikarenakan pengaruh gen-gen dari tetuanya yang diturunkan pada anaknya masih belum terlihat, disamping pengaruh varians lingkungan terhadap berat badan pada umur 1 hari sangat dominan.  Mudawamah, dan Martojo.. (1987), menyatakan bahwa varians lingkungan yang mempengaruhi berat badan pada umur 1 hari antara lain berat telur dan kondisi saat dilakukan penetasan.

2.  Nilai pendugaan angka pewarisan berat badan pada saat umur 3 minggu

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai pendugaan angka pewarisan (heritability estimation) berat badan burung puyuh pada saat umur 3 minggu untuk betina sebesar 0,212   ±    0,314 dan untuk jantan sebesar  0,239   ±    0,451.  Nilai pendugaan angka pewarisan berat badan burung puyuh pada saat umur 3 minggu lebih besar dibandingkan dengan nilai pendugaan angka pewarisan berat badan burung puyuh pada saat umur 1 hari. Hal ini memberikan pengertian bahwa seleksi yang dilakukan berdasarkan berat badan pada saat umur 3 minggu sudah memberikan respon yang cukup nyata dibandingkan dengan seleksi pada saat umur 1 hari. Nilai pendugaan angka pewarisan berat badan burung puyuh pada saat umur 3 minggu berkisar antara 0,20-0,79 untuk jantan dan 0,17-0,65 untuk betina (Sefton dan Siegel, 1994).

Seleksi yang dilakukan pada saat umur 3 minggu akan mulai terlihat responnya, hal ini disebabkan pertumbuhan berat badan yang dicapai sampai umur 3 minggu sudah tidak lagi dipengaruhi oleh lingkungan yang berasal dari induk (maternal effect) seperti yang ditunjukkan pada berat telur dan berat tetas, tetapi banyak ditentukan oleh faktor genetik. Jafendy (1978), menyatakan bahwa tidak terdapat korelasi antara berat tetas dengan pertumbuhan tetapi terdapat korelasi antara berat telur dengan berat tetasHasnudi, dan Mansjoer. 1984), menyatakan bahwa selama proses pertumbuhan berlangsung banyak ditentukan oleh faktor gen.

3.  Nilai pendugaan angka pewarisan berat badan pada saat umur 6 minggu

Hasil penelitian terhadap nilai pendugaan angka pewarisan (heritability estimation) berat badan burung puyuh pada saat umur 6 minggu sebesar 0,618   ±    0,239 untuk betina dan sebesar  0,755   ±    0,420 untuk jantan. Nilai pendugaan angka pewarisan berat badan burung puyuh pada saat umur 6 minggu lebih besar dibandingkan dengan nilai pendugaan angka pewarisan berat badan burung puyuh pada saat umur 1 hari maupun umur 3 minggu. Hal ini memberikan pengertian bahwa seleksi yang dilakukan berdasarkan berat badan pada saat umur 6 minggu sudah menunjukkan respon yang signifikan. Hasil ini juga memberikan arti yaitu mulai umur 6 minggu merupakan saat yang tepat untuk dilakukan seleksi karena akan  lebih efisien dan akan memberikan hasil yang nyata. Sefton dan Siegel (1994), menyatakan bahwa nilai pendugaan angka pewarisan berat badan burung puyuh pada saat umur 6 minggu berkisar antara 0,51-0,75 untuk jantan dan 0,41-0,65 untuk betina.

Nilai pendugaan angka pewarisan berat badan burung puyuh pada saat umur 6 minggu ini  dapat dinyatakan cukup tinggi. Tingginya nilai pendugaan angka pewarisan berat badan burung puyuh pada saat umur 6 minggu ini dikarenakan adanya pengaruh varians genetik yang cukup besar. Nugroho dan Mayun (1991), menyatakan bahwa pada umur 6 minggu merupakan saat tercapainya dewasa kelamin untuk burung puyuh dan Hutt (1999), menyatakan bahwa dewasa kelamin merupakan sifat keturunan yang banyak dikendalikan oleh banyak gen.

IV.  KESIMPULAN

   Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini yaitu  :

1.       Angka pewarisan  berat badan burung puyuh pada saat umur 1 hari tergolong rendah, padaumur 3 minggu tergolong sedang, dan pada umur  6 minggu tergolong tinggi.

2.       Kemampuan tetua dalam menurunkan kesamaan sifat kepada keturunnya, khususnya untuk berat badan pada burung puyuh tertinggi dicapai pada saat umur 6 minggu.

3.      Seleksi melalui sifat berat badan untuk burung puyuh paling efektif pada saat umur 6 minggu, sedangkan seleksi yang dilakukan sebelum umur 6 minggu akan kurang berhasil.

DAFTAR  PUSTAKA

Aggrey S.E., Ankra-Badug. A., Marks H.L. 2003. Effect of Long-Term Divergent Selection on Growth Characteristics in Japanese Quail. Poultry Sci., 82: 538-542.

Becker, W.A., 1975. Manual of Quantitative genetics. 3rd Ed. Washington State University Press. Washington.

Cole H.H. 1966. Introduction to Livestock Production. Freeman and Company. San Francisco.

Falconer D.S., Mackay          T.F.C.  1989. Introduction       to         Quantitative Genetics.
New York: Longman Inc.

Hasnudi, H. Martojo dan S. S. Mansjoer. 1984. Pengaruh Perkawinan Pada Puyuh Terhadap Pertumbuhan dan Mortalitas Keturunannya. Fakultas Peternakan IPB. Bogor.

Henderson, C.R., 1996. Recent Development in Variance and Covariance Estimation. Animal Science.  63: 210-216.

Jafendi, H.P.S., 1978. Hubungan antara Berat Telur, Persentase Berat Tetas dan Kecepatan Pertumbuhan Ayam Kampung. Buletin Fakultas Peternakan, UGM. Yogyakarta. 56-58.

Lasley, L.J., 1978. Genetics of Livestock Improvement. 3rd  Edition. Prentice-hall. New Delhi.

Maeda Y., Minvielle F., and Okamoto, s., 1997. Changes of proteinPolymorphism in Selection   Program   for   Egg    Production         in Japanese Quail,
(Coturnix coturnix japonica). Japanese Poultry Science, 34: 263-272.

Marks H. L. 1985. Direct and Correlated Responses to Selection for growth. Dalam Poultry Genetics and Breeding.   Hill W.G.,Manson J.M.,   Hewit D.,         ed.       Longmangroup
Limited, Harlow UK. Hal. 47-57

Marks H. L. 1996.  Long-Term  Selection for   Body    Weight        in  Japanese     Quail     Under Different          Environment. Poultry Sci,. 75: 1198-1203.

Mudawamah, S. S. Mansjoer dan H. Martojo. 1987. Pola Pewarisan dan Frekuensi Warna Bulu Puyuh Jepang Serta Pengaruhnya Terhadap Bobot Badan. Fakultas Peternakan, IPB. Bogor.

Nestor, K.E., Anderson, J.W., and R.A. Patterson, 1996. Genetics of Growth and Reproduction in Turkey. Poultry Science. 79: 445-450.

Shanaway, M. M. 1994. Quail Production Systems.FAO of United Nation. Rome.

Sefton, A.e., and P.B. Siegel, 1978. Inheritance of Egg Production, Egg weight, Body Weight and Certain Plasma Constituents in Coturnix. Poultry Sci. 57: 1-8.

Van der Werf J.H.J., de Boer I.J.M. 1990. Estimation of Additive Genetic Variance When Base Populations are Selected. J. Anim. Sci., 68: 3124 – 3132.

Warwick E.J., Legates J.E. 1979. Breeding and Improvement of Farm Animal. New York: Mc-Grow-Hill Book Company.

Warwick E.J., Maria Astuti J., Hardjosubroto W. 1983. Pemuliaan Ternak. Universitas gadjah Mada Press. Yogyakarta.

 

 

 

 

 

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: