//
you're reading...
Uncategorized

PENGARUH INTRODUKSI BAKTERI Lactobacillus sp. DALAM SISTEM PENCERNAAN TERHADAP PERFORMANS AYAM PEDAGING

 

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian lactobacillus terhadap terhadap performans produksi ayam pedaging, yang meliputi  konsumsi pakan, pertambahan bobot badan dan nilai konversi pakannya. Program penelitian ini  dilakukan di Unit Praktek Ternak (UPT) Akademi Peternakan Karanganyar, Desa Bejen, Kabupaten Karanganyar.

Desain yang digunakan adalah Rancangan Acak lengkap (RAL)  dengan dasar pertimbangan karakteristik obyek penelitian bersifat homogen (Sastrosupadi, 1991).  Penelitian ini menggunakan DOC sebanyak 60 ekor dan DOC tersebut dibagi secara  acak    dengan   jumlah   yang   sama   ke dalam  4  perlakuan,  yaitu  Kelompok Kontrol (AB-0), Kelompok  dengan Pemberian Lactobacillus sebanyak 1 % (AB-1), Kelompok  dengan Pemberian Lactobacillus sebanyak 2 % (AB-2)  dan  Kelompok  dengan Pemberian Lactobacillus sebanyak 3 % (AB-3).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Rerata konsumsi masing-masing sebesar 43,53 (AB-0), 39,64 (AB-1) , 39,41(AB-2) dan 38,87 g/ekor/hari  (AB-3) dengan hasil uji statistik menunjukkan berbeda sangat  nyata  (P< 0,01), 2).  Rerata PBBH  pada  AB-0, AB-1, AB-2 dan AB-3  berturut-turut  40,60;  41,62;  42,69  dan  43,17 g/ekor/hari dengan hasil uji statistik menunjukkan berbeda tidak nyata (P>0,05), 3) Rerata  nilai  konversi  pakan  pada  AB-0, AB-1, AB-2  dan  AB-3  berturut-turut  1,07;  0,95;  0,92  dan  0,90  dengan hasil uji statistik berbeda tidak nyata (P>0,05).

Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini yaitu  bahwa lactobacillus dapat diberikan pada ayam pedaging dalam rangka meningkatkan efisiensi pakan sampai batas aras 3 persen, bahwa pengaruh antara ayam pedaging yang diberi dan tanpa diberi lactobacillus terhadap performans konsumsi adalah berbeda sangat nyata (P < 0,01) sedangkan terhadap PBBH  dan  nilai konversinya adalah  berbeda tidak nyata (P > 0,05), bahwa  pemberian lactobacillus pada ayam pedaging  melalui air minum  dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pakannya.

 

Kata kunci :  Lactobacillus,  Performans Produksi  dan Efisiensi.

 

I.  PENDAHULUAN

Pada usaha dibidang  peternakan biaya pakan (feed cost) merupakan biaya yang terbesar dari seluruh biaya produksi, yaitu mampu mencapai  70  persen. Tingginya biaya pakan tersebut disebabkan karena bahan pakan ternak sebagian besar masih bersaing dengan kebutuhan manusia, disamping bahan bakunya masih banyak didapatkan dengan cara mengimpor. Oleh karena itu untuk mengatasi besarnya biaya pakan perlu diupayakan penggunaan bahan pakan alternatif atau bahan yang mampu menekan biaya pakan.

Kualitas pakan merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan karena dengan pakan yang berkualitas akan mampu menjamin ketersediaan zat gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan produksi ternak. Namun demikian dari sisi lain perlu diperhatikan juga bahwa pakan yang berkualitas kebanyakan memiliki harga yang mahal sehingga tidak terjangkau oleh peternak.

Saat ini banyak diupayakan pengadaan pakan yang berkualitas dan biaya yang murah dengan cara mengolah pakan menggunakan teknologi yang sederhana. Pengolahan bahan pakan secara tepat akan memungkinkan perubahan formulasi ransom dengan adanya peningkatan nilai gizinya. Beberapa bentuk pengolahan bahan pakan dapat dilakukan baik secara phisik, kemis ataupun biologis.

Beberapa hambatan yang sering dijumpai yaitu bahan pakan ternak unggas kurang dapat dimanfaatkan oleh ternak dikarenakan masih berbentuk senyawa-senyawa kompleks yang belum dipecah-pecah menjadi senyawa-senyawa sederhana di dalam alat pencernaan unggas tersebut. Senyawa kompleks tersebut tidak dapat diserap dan dimanfaatkan tubuh dan hanya terbuang sebagai kotoran saja. Terjadinya hambatan dalam memecah senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa-senyawa sederhana disebabkan di dalam alat pencernaan unggas (monogastric) memiliki keterbatasan jumlah mikroorganisme yang berfungsi membantu proses pencernaan secara enzimatis. Hal demikian mengakibatkan bahan pakan kurang dapat dimanfaatkan secara optimal oleh ternak sehingga performans pertumbuhan dan produksi tidak optimal pula.

Grup genus Lactobacillus sebagai mikroorganisme sebenarnya merupakan normal flora yang terdapat di dalam saluran pencernaan hewan maupun manusia. Lactobacillus telah banyak digunakan secara ekstensif untuk menghasilkan produk-produk fermentasi yang dibutuhkan untuk konsumsi hewan maupun manusia. Perkembangan teknologi modern telah memungkinkan sistem transfer gen dari Lactobacillus tersebut sehingga dapat dilakukan rekayasa genetik biologi dan plasmid Lactobacillus yang diharapkan dapat menghasilkan produk barang dan jasa yang bermanfaat untuk ternak, manusia atau tumbuhan (Warsito, 1997). Begitu pentingnya peran Lactobacillus untuk industri pangan dan pakan, di beberapa laboratorium modern telah banyak dikembangkan dan perbaikan galur Lactobacillus dan terbukti Lactobacillus sp. Sangat berperan dalam industri pakan/pangan dan pengawetan berbagai jenis makanan fermentasi serta mampu memperbaiki dan meningkatkan produktivitas ternak. Dengan kata lain, introduksi lactobacillus ke dalam saluran pencernaan unggas dapat membantu proses pencernaan secara enzimatis, maka dapat diharapkan pula pemanfaatan pakan oleh tubuh ternak secara  optimal sehingga mampu memperbaiki performans unggas tersebut. Praktek di lapangan menunjukkan bahwa kebanyakan para peternak dalam pemberian pakan ternaknya hanya mengandalkan pakan jadi atau buatan pabrik saja. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan para peternak dan informasi inovatif tentang adanya kelebihan dan keunggulan dari penggunaan lactobacillus pada praktek pemeliharaan ternaknya.

Memperhatikan latar belakang masalah di atas dapat dikemukakan bahwa para peternak ayam pedaging khususnya di daerah Kabupaten Karanganyar sebagian besar belum memanfaatkan keunggulan dari pemberian bakteri Lactobacillus sp. dalam usahanya untuk dapat meningkatkan performans produksinya. Dengan demikian dapat diartikan bahwa para peternak dalam memberikan pakan untuk ayamnya masih menerapkan pola yang biasa dilakukan peternak umumnya, yaitu hanya mengandalkan atau mengutamakan pemberian pakan jadi buatan pabrik tanpa adanya perlakuan khsusus sehingga tingkat efisiensi pemeliharaannya belum maksimal.  Disisi lain dalam perkembangan teknologi telah banyak perkembangan, diantaranya telah ditemukan galur lactobacillus yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi pada usaha budidaya ayam pedaging.

Berdasarkan permasalahan tersebut  maka sangat menarik untuk menguji pengaruh pemberian lactobacillus dalam saluran pencernaan ayam pedaging melalui air minum terhadap performans pertumbuhan, konsumsi pakan dan konversi pakannya.  Secara rinci rumusan masalah  dapat dijelaskan sebagai berikut :

1.  Apakah penggunaan lactobacillus dapat dijadikan  sebagai  perlakuan  yang dapat meningkatkan performans ayam pedaging ?

2.   Apakah ada perbedaan pengaruh antara ayam yang diberi lactobacillus dengan  ayam tanpa pemberian lactobacillus ?

Sesuai dengan permasalahan yang hendak diuji tersebut maka dapat dirumuskan hipotesis penelitiannya, yaitu :

1.  Pemberian lactobacillus pada ayam pedaging melalui air minum dapat meningkatkan performansnya.

2.  Pemberian lactobacillus pada ayam pedaging melalui air minum dapat meningkatkan kecepatan pertumbuhan.

3.  Pemberian lactobacillus pada ayam pedaging melalui air minum dapat meningkatkan efisiensi pakannya.

Tujuan  Penelitian :

Memperhatikan permasalahan yang akan dikaji maka tujuan dari penelitian ini dapat dirumuskan, sebagai berikut :

1.  Mengetahui apakah lactobacillus dapat diberikan pada ayam pedaging dalam rangka meningkatkan efisiensi pakan.

2.  Menguji perbedaan pengaruh antara ayam pedaging yang diberi dan tanpa diberi lactobacillus terhadap performans pertumbuhan, konsumsi dan nilai konversinya.

 

II.  MATERI  DAN METODA 

1.  Lokasi  dan  waktu  penelitian

Program penelitian ini  dilakukan di Unit Praktek Ternak (UPT) Akademi Peternakan Karanganyar, Desa Bejen, Kabupaten Karanganyar, selama 12 minggu mulai bulan Pebruari  sampai  dengan Mei  2007.

2.  Populasi  dan  sampel

Sebagai populasi dalam penelitian ini adalah anak ayam pedaging umur sehari (Day old chick; DOC) yang diambil dari Poultry Shop sebanyak 100  ekor dengan berat rata-rata  37 gram. Sampel penelitian diambil secara random sebanyak 60 ekor DOC dari jumlah populasi yang ada dan selanjutnya dilakukan uji homogenitas untuk mendapatkan sample yang seragam (homogen).

3.  Variabel  penelitian

a.  Sebagai  variable dependen    adalah  performans  ayam pedaging, yang meliputi :

–  Rata-rata pertumbuhan berat badan harian (PBBH; average daily gain/ADG)

–  Rata-rata konsumsi pakan harian (feed consumption)

–  Nilai  konversi  pakan (feed conversion ratio; FCR)

b.  Sebagai variable indipendennya adalah pemberian air minum dengan penambahan lactobacillus (sumber  EM-4)  dengan aras yang berbeda sebagai perlakuan.  Aras yang berbeda tersebut yaitu  AB-1 (1%), AB-2 (2%)  dan AB-3 (3%).

c.   Sebagai    variable  kontrolnya  (AB-0)   adalah    pemberian  air minum  tanpa  penambahan lactobacillus sebagaimana kondisi alamiah yang biasa dilakukan oleh para peternak di daerah Kabupaten Karanganyar.

4.  Metoda  dan  desain penelitian

Metoda pengumpulan data dengan observasi langsung dan alat yang dipakai yaitu alat pengukur berat (timbangan) digital agar diperoleh data yang akurat, sedangkan desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (Complete Randomized Design) dengan pertimbangan bahwa karakteristik obyek penelitian bersifat homogen yang ditinjau dari sisi materi (ayam dan perkandangan) dan kondisi geografis lokasi penelitian (Sastrosupadi, 1991). Performans yang diukur selama pelaksanaan penelitian berlangsung meliputi pertambahan bobot badan harian (PBBH), konsumsi pakan harian (feed consumption) dan nilai konversi pakan (feed conversion).

Pada penelitian ini menggunakan anak ayam pedaging umur sehari (DOC) sebanyak 60 ekor  yang masing-masing dibagi secara acak dengan jumlah DOC yang sama ke dalam 4 kandang perlakuan. Setiap  kandang perlakuan terdiri dari 3 kandang kelompok sub-perlakuan sebagai ulangan (replication).

Tabel  1.  Susunan  Perlakuan   Penelitian

Perlakuan

AB-0

AB-1

AB-2

AB-3

Jenis

1

2

3

4

1.  Ransum

2.  Air  Minum

BR-1

AB+0% EM4

BR-1

AB +1 % EM4

BR-1

AB +2 % EM4

BR-1

AB +3 % EM4

6.  Teknik  analisis  data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis variansi (anava) dan apabila hasil analisisnya diketahui terdapat perbedaan yang signifikan maka akan dilakukan dengan uji lanjut pada taraf nyata 5 %  dan  1 %  (Steel and Torrie, 1981).

III.  HASIL  DAN  PEMBAHASAN

Konsumsi  Pakan.

Rerata konsumsi  dari ke empat macam perlakuan  adalah sebesar 43,53 (AB-0), 39,64 (AB-1) , 39,41 (AB-2) dan 38,87 g/ekor/hari  (AB-3). Analisis statistik memberikan hasil bahwa konsumsi pakan  dari ke empat macam perlakuan  adalah  berbeda  sangat nyata    (P< 0,01).   Hal ini memberikan arti bahwa  pemberian  lactobacillus melalui air minum mampu mempengaruhi konsumsi pakan yang mengakibatkan  penurunan pada konsumsi pakannya.  Penurunan ini diduga karena bakteri lactobacillus yang masuk ke saluran pencernaan ayam dapat bertahan hidup dan berkembang dalam alat pencernaan ayam sehingga  dapat   membantu meningkatkan  proses pencernaan.

Beberapa pustaka menyatakan bahwa konsumsi  pakan  diantaranya  dipengaruhi   oleh  kondisi fisiologis ternak, disamping kualitas   dan  sifat  fisik   bahan  pakan  yang   digunakan,   bobot   badan  ternak,   palatabilitas  pakan  dan  kondisi  lingkungan (Lubis, 1992; Haryanto dan Djajanegara, 1993).  Wasito (1997), menyatakan bahwa lactobacillus akan dapat membantu proses pencernaan terutama bagi ternak yang masih muda melalui stimulasi aktivitas enzim (pepsin). Selain itu lactobacillus juga menghasilkan enzim yang sangat diperlukan dalam system pencernaan antara lain sukrase, lactase dan peptidase yang juga diperlukan untuk meningkatkan protease sehingga pemanfaatan pakan ternak dapat terjadi secara optimal dan mempunyai nilai keuntungan ekonomis yang cukup tinggi.

Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH).

Rerata PBBH  pada  AB-0, AB-1, AB-2 dan AB-3  secara  berturut-turut  adalah 40,60;  41,62; 42,69  dan  43,17 g/ekor/hari.  Analisis statistik menunjukkan bahwa PBBH  dari keempat macam perlakuan tersebut adalah tidak berbeda  nyata (P>0,05). Hal ini memberikan pengertian bahwa perlakuan dengan memberikan lactobacillus melalui air minum sampai aras 3 persen belum mampu mempengaruhi PBBH secara signifikan, namun demikian terlihat adanya kecenderungan meningkatnya PBBH dengan bertambahnya aras pemberian lactobacillus walaupun  konsumsi pakannya secara signifikan terjadi penurunan.       Hal  ini sesuai pendapat Tillman et al. (1991), yang menegaskan bahwa  konsumsi pakan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap laju pertumbuhan  karena  dari  pakan tersebut  ternak akan memperoleh zat gizi atau nutrien untuk hidup  dan  pertumbuhan.  Sementara itu Soeparno (1994) dan Parakkasi (1999), menyatakan bahwa  pertumbuhan pada ternak yang ditunjukkan  dengan PBBH dipengaruhi  oleh  faktor  pakan  (jenis,  komposisi kimia  dan  konsumsi pakan)  dan   ternak (jenis kelamin, hormon dan genetik).

Konversi  Pakan.

Rerata  nilai  konversi  pakan  pada  AB-0, AB-1, AB-2  dan  AB-3  berturut-turut  adalah  1,07;  0,95;  0,92  dan  0,90.  Hasil uji statistik menunjukkan hasil tidak berbeda (P>0,05). Hasil ini mengindikasikan bahwa pemberian lactobacillus sampai  aras 3 persen dalam air minum memiliki  nilai efisiensi pakan yang sama. Hal  ini  karena  rasio antara konsumsi   dan PBBH pada  perlakuan    AB-0, AB-1, AB-2 dan AB-3 memiliki nilai yang relatif sama.

Secara kuantitatif konsumsi pakan memiliki kecenderungan menurun dengan meningkatnya aras pemberian lactobacillus dalam air minum, akan tetapi berbanding terbalik dengan PBBH-nya yang memiliki kecenderungan meningkat dengan semakin besarnya aras pemberian lactobacillus. Konsumsi  pakan  pada   AB-1, AB-2 dan  AB-3 masing-masing adalah sebesar  39,64;  39,41  dan 38,87 g/ekor/hari yang  lebih  rendah  dari    konsumsi   pakan pada AB-0  yang  sebesar  43,53 g/ekor/hari, sedangkan PBBH  untuk AB-1, AB-2 dan AB-3  secara  berturut-turut  adalah  41,62; 42,69  dan  43,17 g/ekor/hari yang lebih baik dari AB-0 yaitu sebesar 40,60 g/ekor/hari.  Hal ini memberi petunjuk bahwa  pemberian lactobacillus melalui air minum mampu meningkatkan efektivitas karena untuk mencapai PBBH yang sama ternyata kelompok dengan pemberian lactobacillus membutuhkan konsumsi pakan yang lebih sedikit.

IV.  KESIMPULAN

Dilihat dari  hasil penelitian dan analisisnya tersebut di atas, maka dapat diambil suatu kesimpulan, yaitu :

1.  bahwa lactobacillus dapat diberikan pada ayam pedaging dalam rangka meningkatkan efisiensi pakan sampai batas aras 3 persen.

2.  bahwa pengaruh antara ayam pedaging yang diberi dan tanpa diberi lactobacillus terhadap performans konsumsi adalah berbeda sangat nyata (P < 0,01) sedangkan terhadap PBBH  dan  nilai konversinya adalah  berbeda tidak nyata (P > 0,05).

3.  bahwa  pemberian lactobacillus pada ayam pedaging  melalui air minum  dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pakannya.

DAFTAR  PUSTAKA

Anonimus, 1988.  lactosym  dan  Multigerm, Feed  Suplemen  dengan  Kandungan Bakteri  Alami  yang  Hidup.  PT. Multigerm  Indonesia. Bogor.

Haryanto, B. dan A. Djajanegara. 1993. Pemenuhan kebutuhan zat-zat makanan ternak ruminansia kecil. Dalam: M. Wodzicka-Tomaszweska,  A. Djajanegara, I.M. Mastika, S. Gardiner  dan T.K. Wiradarya. Produksi Kambing dan Domba di Indonesia. Sebelas Maret University Press. Surakarta. Hal.:159 – 196.

Lubis, D.A. 1992.  Ilmu  Makanan  Ternak.  PT.  Gramedia.  Jakarta

Parakkasi, A.  1999.  Ilmu  Nutrisi  dan  Makanan  Ternak  Ruminansia. UI  Press.  Jakarta.

Soeparno. 1994. Ilmu dan Teknologi Daging. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Steel, R.G.D.  and  J.H.  Torrie,  1981.  Principles  and  Procedures  of  Statistics.  Second Edition. Singapore. Mc. Graw Hill. International Book Co.

Sudarmadji, S., Kasmijo, R., Sadjono, Wibowo, D., Margino, S., dan Rahayu, E.S., 1989.  Mikrobiologi  Pangan.  Proyek Pengembangan Pusat fasilitas Bersama antar Universitas. PAU Pangan dan Gizi. Universitas Gadjah mada. Yogyakarta.

Suwarso, D.,  Bachrudin, Z.  dan  Agus, A., 1998.  Skrining Mikroba Selulolitik Aerobik dari Effective Microorganism  dan  Aplikasinya  pSilase Rumput Raja.  Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Universitas gadjah Mada. Yogyakarta.

Tillman, A.D.,  H. Hartadi,  R. Reksohadiprodjo,  S. Prawirokusumo   dan S. Lebdosoekojo. 1991.  Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada Press. Yogyakarta.

Wasito, H.R.,  1997.  Lactobacillus, Aplikasi  dan  Peranannya  Terhadap  Kesehatan dan Pertumbuhan  Hewan  Ternak  dan  Unggas.  Makalah Seminar. Novotel. Solo.

Wahyu, J.,  1988.  Ilmu  Nutrisi  Unggas.  Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: